Tag

, ,

Irfan Suryanagara (ketua dprd jabar)

Saat audiensi dengan Ketua DPRD Provisnsi Jawa Barat, Ir. Irfan Suryanagara di ruang kerja (17/1), Ketua Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IATSI) Provinsi Jawa Barat, Taufik Rachman menyampaikan bahwa 50 persen devisa negara berasal dari industri tekstil di Jawa Barat,  namun menurut Taufik sampai saat ini belum ada perhatian dari Pemerintah  terhadap perkembangan pertekstilan di Jawa Barat. ” Berbeda dengan industri tekstil di Jawa Tengah yang mendapatkan dorongan dari pemerintahnya untuk berkembang seperti yang terjadi saat ini.” Menurut Taufik, bila industri pertekstilan dibiarkan seperti saat ini maka ada kemungkinan pusat industri tekstil akan berpindah ke Jawa Tengah.
Menurut Taufik, pihaknya sangat membutuhkan bantuan dan sokongan  dari DPRD Provinsi Jawa Barat agar mendorong pemerintah provinsi  memberikan perhatian bagi pengembangan tekstil di Jawa Barat baik itu melalui pelatihan-pelatihan, penyediaan fasilitas gedung atau mesin-mesin produksi.

Menanggapi keinginan IATSI tersebut, Ketua DPRD mengemukakan bahwa memang masalah tekstil tidak pernah lepas dari industri tekstil, dan untuk itu memang dibutuhkan dukungan meskipun industri tekstil sendiri bukan unggulan dalam memberikan pendapatan kepada daerah Jawa Barat  karena selama ini pajaknya lebih banyak untuk pusat. “Selama ini Jawa Barat malah  lebih sering mendapatkan demo dari pekerja tekstil serta limbah-limbah dari pabrik-pabrik garment yang ada di wilayah industri.”

Irfan menyepakati perlunya dukungan dari pemerintah terkait dengan perkembangan industri tekstil di Jawa Barat. Selain dukungan dari pemerintah, Irfan juga mendorong agar perusahaan-perusahaan tekstil di Jawa Barat  turut serta  memberikan dukungan dengan menyalurkan bantuan CSR untuk memberdayakan masyarakat pertekstilan.

Mengenai pemberdayaan masyarakat ini, Anggota DPRD Sugianto Nangolah yang mendampingi Ketua DPRD mengemukakan agar pemberdayaan masyarakat tersebut dilakukan dengan fokus pada upaya membangun jiwa wirausaha atau entepreneurship di kalangan pekerja. ” Jangan mendidik atau melatih jadi pekerja atau buruh, tapi kita berdayakan agar masyarakat itu menjadi pengusaha dan menciptakan peluang kerja baru,” kata Nangolah.

Dukungan fasilitas untuk tempat pelatihan sebagaimana yang dikemukakan Taufik, Ketua DPRD mengatakan bias saja memanfaatkan asset yang sudah ada, apalagi saat  ini DPRD tengah menelusuri keberadaan asset daerah yang nantinya bisa saja dimanfaatkan.

Irfan juga berterimakasih atas informasi dan masukan yang disampaikan IATSI mengenai pertekstilan di Jawa Barat dan meminta pihak IATSI melakukan komunikasi dan koordinasi dengan instansi terkait. (Gus).