Tag

,

(Bogor MT)- ”Banyak yang sayang sama Hendi di sini. Kalau buat makan atau jajan, suka ada yang memberi. Kalau soal makan, di sini sehari tiga kali. Hendi minta tolong di urusin kalau sudah (menjalani satu tahun dua bulan) bisa mengurus (PB). Artinya, PB itu tahanan luar yang dipotong satu tahun setengah.” Begitulah sebagian isi surat yang ditulis tangan oleh Nurhendi (27), tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Paledang, Kota Bogor, Jawa Barat, pada 9 Februari 2011, beberapa hari sebelum dipindahkan dari LP Pondok Rajek, Cibinong, Kabupaten Bogor, ke LP Paledang.

”Surat itu diberikan Hendi sewaktu kami menjenguknya di LP Pondok Rajek. Dia buat dua surat. Satu untuk orangtua dan satu untuk istrinya yang tengah mengandung enam bulan anak pertamanya,” tutur Inang (48), ayah Hendi, di Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Rabu (9/3/2011).

Hendi meninggal dunia sehari sebelumnya saat berada di LP Paledang. Ia merupakan tahanan kasus kepemilikan sembilan paket kecil ganja. Keluarga mencurigai Hendi meninggal tak wajar karena tubuhnya lebam-lebam dan kaki membengkak. Semula keluarga menduga Hendi dianiaya petugas di LP Paledang.

Namun, setelah diperlihatkan rekaman kamera pengawas oleh petugas LP, Inang mengatakan, anaknya dipukuli warga yang sedang berada di sekitar LP. Hendi pada siang hari, 20 Februari 2011, melompati pagar kawat setinggi 2 meter untuk kabur dari LP. Saat turun, dia dipukuli warga yang mendengar teriakan ada tahanan kabur.

”Saya kaget, bagaimana anak saya bisa melompat seperti itu. Petugas juga kaget,” tuturnya.

Inang dan istrinya, Ade Nurkilah (45), tidak menyangka anak mereka punya keberanian untuk kabur. Saat dibesuk di LP Pondok Rajek, anak mereka juga tidak menunjukkan tanda-tanda tersiksa, tidak tenang, atau ingin kabur. Ia malah meminta keluarga pasrah, menunggu masa tahanannya berakhir.

Malah dalam surat yang diberikan untuk orangtua, ia menulis ”Kalau sudah tahu celah kerjaan di dalam, mudah-mudahan bisa nyari duit”.

Inang dan Ade menduga hal itu bisa disebabkan anak mereka merasa tertekan di dalam penjara lantaran ”tekanan” dari teman-teman sekamarnya.

Sehari setelah pindah ke LP Paledang, Ade mengaku, Indri (16), adik Hendi, menerima telepon dari seseorang yang mengaku kepala kamar, sebut saja M, yang juga tahanan narkotika. M meminta uang kamar Rp 2 juta agar Hendi bisa tidur di sana. Jika tidak, Hendi hanya bisa tidur sambil berdiri.

Ade mengaku tak ada uang karena suaminya hanya seorang sopir angkutan umum. ”Kak Hendi juga menelepon dari nomor itu,” tutur Indri, yang menyebutkan nomor telepon seluler 085718202XXX.

”Besoknya telepon lagi. Katanya seberapa adanya saja. Rp 1 juta juga tidak apa-apa supaya Hendi setidaknya bisa tidur sambil duduk,” tutur Ade.

Merawat korban

Kepala LP Paledang Suwarso mengatakan, setelah dipukuli warga, pihaknya merawat Hendi di LP karena memiliki dokter. Namun, Selasa pagi, Hendi merasa sakit dan sempat hendak dibawa ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan, Hendi meninggal. Soal motif Hendi kabur, menurut Suwarso, bisa saja karena ia tertekan ancaman hukuman yang tinggi.

Mengenai telepon yang diterima keluarga, Suwarso mengaku, telepon seluler dilarang di LP. Jika ada, itu berarti tahanan menyelundupkannya. Namun, Suwarso mengaku tidak percaya adanya permintaan uang kamar. ”Bisa juga karena tahanan kangen dibesuk, jadinya bilang begitu,” tuturnya.

Pihak keluarga sudah menerima kematian Hendi. Namun, mereka masih bertanya, mengapa Hendi sampai nekat kabur. (Dik-dik)