Tag

, ,

Bandung (MT)-Dalam rangka meningkatkan kinerja, pelayanan dan pengabdian puskesmas terhadap masyarakat, pemerintah dan Dinas kesehatan kota Bandung memberikan penilaian serta penghargaan berupa piala Adipura kepada semua puskesmas yang ada di wilayah kota Bandung. Hanya Puskesmas Kecamatan Padasuka saja yang mendapat nilai terendah yakni hanya mendapat nilai 30 dalam bidang kebersihan.
Nilai itu sangat rendah di banding puskesmas lainnya, faktor yang menyebabkan puskesmas ini mendapat nilai jauh di bawah normal di karenakan kamar mandi puskesmas ini sangat tidak bersih dan sering tercium bau yang tidak sedap dari arah kamar mandinya.

Menurut Kepala puskesmas Padasuka  yaitu dokter Ati, Memang puskesmasnya mendapat nilai nilai rendah yaitu hanya mendapat poin 30, Hal itu karena kamar mandinya sedang rusak dan dalam proses perbaikan, adapun yang menyebabkan sering tercium bau karena belum memiliki saluran pembuangan.

“Kamar mandinya sedang rusak dan saluran pembuangan tersumbat dan meluap sehungga menimbulkan bau” Kata dokter Ati saat di wawancarai di Ruang kerjanya.

“Apalagi puskesmas kami saat ini sedang dalam tahap renovasi, bangunan di depan sedang di perbaiki tetapi karena dananya tidak memadai jadi kami belum bisa memperbaiki kamar mandi sdan ruangan-ruangan lain, padahal yang lainnya sudah rusak juga” Ungkapnya.

Bukan dalam hal kebersihan saja, puskesmas padasuka terkesan kurang ramah dalam pelayanannya, hal tersebut di ungkapkan beberapa pasien ke pada mediatrans, mereka mengeluhkan pelayanan puskesmas Padasuka saat mereka berobat.

“Kami beberapa kali berobat ke sana tapi pelayanannya kurang nyaman, malah sok jarudes jeung ti mulai pelayan hareup ge, kadang ngobatanna sok rarusuh jeung ciga nu haroream ngalayanina” Kata Pasien yang tidak ingin di sebut namanya.

Adapun pasien yang mengeluhkan mengenai surat rujukan untuk ke rumah sakit, pasien itu harus datang langsung ke puskesmas, padahal pasien pada saat itu sedang dalam keadaan sangat lemah dan tidak memungkinkan untuk datang. Hal berbeda di alami ibu SN, dia pernah mengalami di berikan surat rujukan untuk ke rumah sakit Hasan sadikin, tapi rumah sakit menolak surat rujukan tersebut karena surat yang di berikan puskesmas kurang memenuhi persyaratan (kurang jelas) dan terkesan sudah lama, alhasil ibu SN di suruh kembali dan pihak rumah sakit menduga surat itu di buat sendiri oleh SN dan surat tersebut terkesan sudah lama.

Dokter Ati mengatakan bahwa di puskesmasnya kurang tenaga kerja (SDM), “Kami sudah beberapa kali mengajukan permohonan ke dinas mengenai penambahan dana untuk perbaikan gedung dan penambahan SDM, tapi sampai saat ini belum bisa di wujudkan karena menurut pihak dinas belum ada dananya”. Ujarnya.

“Masalah kurang ramah kami tidak tahu, hal tersebut kembali kepada pribadi pasien dan masing-masing pegawai kami, kami sering memberikan pembinaan terhadap pegawai, bila ada pegawai yang ketahuan tidak ramah saya langsung memberikan teguran, malah saya sempat meminta kepada dinas untuk mengtadakan pembinaan khusus (pembinaan sikap) terhadap pegawai sebelum mereka melayani masyarakat”. Tegas Ati

Ati menambahkan bahwa ada beberapa pasien yang berkeinginan di dahulukan padahal sudah ada nomor antrian, terkadang ada juga yang memaksa minta rujukan ke rumah sakit padahal penyakit pasien tersebut masih bisa di tangani oleh pihaknya. (Agus/Aji)