Tag

, , ,

Bahaya dan Akibat Korupsi menempatkan posisi korupsi sebagai pengkhianatan bangsa yang nomor satu saat ini. Jika kita tempatkan koruptor itu pengkhianat, besar sekali energi untuk menumpasnya. Efeknya adalah adanya gerakan kultural yang bisa berimbas pada rasionalitas bangsa. Gerakan itu menjadikan kita menyisakan persoalan manajemen organisasi negara hanya pada soal oportunis manusia.
Jika kita diam koruptor akan terus merajarela hingga terus beranak-pinak di negara yang kita cintai ini, sehingga kita sebagai warga yang mencintai dan mendambakan negara yang adil, makmur serta sejahtera, dituntut mencari sistem organisasi negara jujur dan transparan. Bahkan sikap itu juga hidup dalam struktur organisasi informal. Dengan begitu, sikap-sikap tersebut dapat diminimalisasi sedemikian rupa melalui perbaikan sistem (peraturan perundang-undangan) agar tidak mengganggu efektivitas manajemen organisasi negara.

Hidup mewah para koruptor yang sudah terjerat proses hukum menjadi bukti bahwa korupsi sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) belum menjadi bagian dari kesatuan gerak pemberantasan dan pencegahan korupsi sebagai penyakit bangsa nomor satu di Indonesia. Semakin terkuak bongkahan puncak gunung es korupsi, ketika Gayus tersangka kasus mafia pajak melenggang ke Bali dengan mudah walau sudah menjadi pesakitan di Mako Brimob Kelapa Dua.

Hal ini menunjukkan bobroknya aparat penegak hukum yang hanya memperkaya diri tanpa memperhatikan kondisi bangsa. Belum cukupkah energi untuk menggerakkan proses penyembuhan penyakit kronis tersebut dari bumi Indonesia?.

Dalam konsep agama, ada istilah munafik, yakni adanya beda antara yang tertulis dan kenyataannya dan beda antara yang terucap dan apa yang dilakukan. Ciri-ciri penyakit ini adalah memakan potensi positif dari pihak lain yang belum terpengaruh atau masih lemah derajat formalismenya.

Pelakunya orang munafik dan super serakah, ditandai keinginannya diterima semua kalangan dan akhirnya meminta orang lain berperilaku sama. Dengan demikian, kemunafikan akan selalu meminta korban. Oleh karena itu, justru orang baik yang akan tertelan.

Akhirnya, ketika semua orang menjadi munafik, super egois dan serakah, justru orang yang tidak munafik atau tidak berpaham formalisme malah dianggap aneh.

Saat ini tengah terjadi penyusutan makna mengenai korupsi sebagai kejahatan luar biasa, sejak UU yang mengatur KPK diberlakukan. Struktur nilai dan struktur sosial-politik juga dipahami bangsa Indonesia tidak mengarah pada kesatuan pemaknaan korupsi sebagai kejahatan luar biasa. Namun, dalam retorika, diskusi, dalam pemandangan politik semua nampak sepakat menuliskan dan mengatakan sebagai kejahatan luar biasa.

Namun, pada saat perwujudan menghilang dan lenyap sebagai penyakit, terjadi penyusutan yang luar biasa. Itu adalah sebuah kemunafikan yang nyata dalam praktik korupsi di negara Indonesia. Ada hubungan yang kuat antara pemberantasan dan pencegahan perilaku korupsi bangsa Indonesia dengan kemunafikan ini.

Di negara berkembang bukan saja sikap oportunis, melainkan juga menghadapi kemunafikan yang tidak mudah ditumpas karena menyangkut kebiasaan dan perilaku bersama.

Terobosannya adalah menempatkan posisi korupsi pada pengkhianatan bangsa. Jika kita tempatkan koruptor itu pengkhianat, besar sekali energi untuk menumpasnya. Efeknya adalah adanya gerakan kultural yang bisa berimbas pada rasionalitas bangsa. Gerakan itu menjadikan kita menyisakan persoalan manajemen organisasi negara hanya pada soal oportunis manusia.

Soal ini sampai kapan pun akan hidup hingga akhir zaman, sehingga justru dituntut sistem organisasi negara harus semakin lengkap. Bahkan sikap itu juga hidup dalam struktur organisasi informal. Dengan begitu, sikap-sikap tersebut dapat diminimalisasi sedemikian rupa melalui perbaikan sistem (peraturan perundangan) agar tidak mengganggu efektivitas manajemen organisasi negara. (Agus Sudrajat), Wartawan MediaTrans

Iklan