Tag

,

kawah kamojang

SOREANG, (MT).- Puluhan orang massa Lembaga Sosial Masyarakat Pusat Sumber Daya Komunitas (PSDK), Perak Indonesia, Sarekat Hijau Indonesia dan Komite Peduli Jawa Barat (KPJB) berunjuk rasa di Pengadilan Negeri Bale Bandung (PNBB), Rabu (12/10). Mereka menuntut penangguhan penahanan lima warga Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung yang didakwa atas kasus pencurian kayu bakar di Kawah Kamojang, Juli 2011 lalu.

Seperti diketahui, lima warga Desa laksana yaitu Dani, Nanan, Setiawan, Adang dan Rozak dianggap telah melakukan tindak pidana pencurian saat mereka memungut ranting untuk kayu bakar di Kawah Kamojang. Sejak 21 Juli 2011, kelima warga tersebut ditahan dan saat ini mereka telah menjalani beberapa persidangan di PNBB.

Menurut koordinator Koordinator Aksi, Hikmat Bijaksana, proses hukum yang berjalan sejak awal sebenarnya sudah menunjukan ketidakadilan. “Mereka hanya memungut ranting yang jatuh untuk dijadikan kayu bakar, bukan menebang pohon. Itupun terpaksa, karena mereka tidak mampu membeli minyak tanah atau gas,” ujarnya.

Hikmat menegaskan, kepolisian dan pengadilan sejak awal seharusnya melihat persoalan tersebut tidak hanya dari sudut pandang hukum. Namun, harus dilihat juga dari sisi kemanusiaan. Di sisi lain, Hikmat menyayangkan penegak hukum justru membiarkan PT Chevron yang telah jelas-jelas melakukan pelanggaran dan mengeksploitasi alam.

Menurut Hikmat, selain dirasa tidak adil, proses persidangan yang berlangsung sudah lebih dari dua bulan tersebut jelas berdampak bagi keluarga kelima terdakwa. “Mereka itu tulang punggung keluarga. Selama mereka ditahan, anak dan istrinya telantar,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Majelis Hakim yang menangani kasus tersebut, Mangatas Simanulang, SH yang mengatakan, pihaknya selama ini hanya menjalankan tugas untuk melaksanakan persidangan. “Kami tidak mungkin menolak berkas yang masuk dan setelah itu kewajiban kami pula untuk menjalankan persidangan,” katanya.

Kendati demikian, permohonan penangguhan penahanan dari para pengunjuk rasa yang sekaligus berani menjadi penjamin, bisa dipertimbangkan oleh pengadilan. “Kami akan pelajari dulu, jika memang diperlukan, penahanan bisa saja ditangguhkan,” katanya. (Agus)***

Iklan