SEMANGAT peternak dan dombamania yang tergabung dalam wadah HPDKI untuk menyemarakan perhelatan seni ketangkasan domba nyaris tak pernah surut. Sebaliknya, malah semakin membara. Apalagi para seniman domba sempat fakum sebulan selama bulan Ramadan.


Alhasil, saat pengelola Pamidangan Bojongmondro yang digawangi Undang Komara dan Dadang Melki menggelar kejuaraan secara besar, Sabtu-Minggu (10-11/9) dombamania tak kuasa menahan hasratnya yang lama terpendam. Tanpa basa-basi lagi, mereka berbondong-bondong menuju tempat kegiatan.
Menurut Undang, kejuaraan itu dikemas dalam rangka memperingati hari jadi pertama Pamidangan Bojongmondro, halal bihalal usai Lebaran, dan memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.
Istirahat sebulan penuh juga bukan hanya memendam kerinduan di benak para penggila domba, melainkan juga warga sekitar. Mereka seakan tersedot untuk memadati sekitar pamidangan berbaur dengan seniman domba.
Akan tetapi, padatnya penonton berdampak kurang baik. Para juru tanding merasa kesulitan dalam mencari pasangan. Apalagi tempat penambatan domba berceceran dengan posisi berumpak-umpak. Keadaan itu sangat menguras tenaga sang juru tanding.
Dampak lain, konstur tanah yang berumpak-umpak dan menajak membuat juru tanding banyak yang salah naksir. Dipandang dari jauh domba tampak seimbang. Namun, setelah didekatkan, fosturnya berjauhan dengan selisih berat di atas lima kilogram.
Lantaran sudah terlanjut daftar, dombamania banyak yang memaksakan diri. Namun, perbedaan bobot yang cukup menyolok membuat pasangan tanding tidak seimbang sehingga jalannya pertempuran kurang menarik. Umumnya, salah satu domba terpojok di salah satu sudut.
Namun, tidak sedikit pula dombamania yang mengurungkan niatnya. Mereka lebih memilih mundur ketimbang koleksi kesangannya celaka. Alhasil, dari sekitar 1200 ekor domba yang hadir selama dua hari, hanya 180 pasang atau 360 ekor yang ditandingkan.
Menurut Dadang Melki, menghadapi kendala itu pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Apalagi merubah konstur tanah tempat penambatan domba. Salah satu upaya menurutnya tak lain harus dilakukan penimbangan untuk membantu mempermudah kerja juru tanding.
“Saya merasa bangga, Pamidangan Bojongmondro masih digandrungi peternak dan pecinta seni ketangkasan domba. Terbukti, dalam seharinya kegiatan ini didatangi sekitar 600 ekor domba. Namun, saya sedikit kecewa, dari sekian banyak yang datang, cuma sekitar 30% yang bertanding,” katanya.
Kendati dipastikan nombokan, namun Dadang dan Undang tetap bahagia mendapati animo masyarakat, baik kalangan tukang domba maupun masyarakat umum yang luar biasa.     Bahkan, tidak sedikit tokoh perdombaan yang menilai Pamidangan Bojongmondro sangat mumpuni dan layak dijadikan tempat menggelar kejuaraan besar sekelas liga. (ayep setiadji)**

Iklan