Tag

CIMAHI, (MT),-
Pemkot Cimahi telah membebaskan tanah seluas 2,5 hektar untuk pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) kawasan di perbatasan Baros-Leuwigajah. Rencananya, IPAL untuk menampung limbah domestik itu akan dibangun pada 2012 mendatang.


Wali Kota Cimahi, H.M. Itoc Tochija menjelaskan, pembangunan IPAL kawasan tersebut merupakan program bantuan dari AusAID, termasuk dalam proyek masterplan sanitasinya.
Itoc menyebutkan, pembangunan fisik IPAL kawasan tersebut merupakan proyek dari pemerintah pusat dan AusAID. Namun, orang nomor satu di Kota Cimahi itu belum tahu besar anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut berapa. Yang pasti, Pemkot Cimahi siap menerima dan menyukseskan program tersebut.
Sementara itu, Kepala Bidang Air Bersih dan Limbah Domestik Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cimahi, Djani Achmad Nurjani menjelaskan, pembangunan IPAL kawasan ini merupakan proyek jangka panjang selama 20 tahun, dan dilakukan secara bertahap dalam program <i>Indonesian Infrastructure Initiave, Waste water Investment Masterplan<i>.
Untuk 5 tahun pertama, IPAL kawasan ini akan dibangun pada lahan seluas 2,5 hektare di daerah penataan pembangunan baru seperti Baros yang kini banyak didirikan kawasan permukiman seperti <i>Apartemen The Edge<i>.
“IPAL kawasan ini mampu menampung limbah domestik per kawasan dengan jumlah populasi yang sangat banyak. Misalnya untuk hunian di <i>The Edge<i>, nantinya akan membuang limbah domestiknya ke IPAL kawasan tersebut yang dihubungkan melalui pipa dan kawasan pemukiman modern lainnya di Baros,” jelas Djani
IPAL kawasan tersebut, lanjutnya,  diperuntukkan bagi kawasan yang penghuninya kelompok menengah ke atas. Sehingga ada anggaran pengelolaan yang rencananya ditarik melalui retribusi oleh lembaga seperti unit pelaksana teknis dinas (UPTD).
Di kawasan terpadu Kota Cimahi juga akan membangun 4 septikteng komunal pada Oktober mendatang di Kelurahan Melong, Leuwigajah, Cipageran dan Kelurahan Utama. Pada 2010 lalu, Kota Cimahi juga telah memiliki septikteng komunal di 5 lokasi, yaitu di Kelurahan Karangmekar, Baros, Utama, Padasuka, dan Kelurahan Cibeureum, serta 1 tangki di Kel. Cimahi.
“Septikteng komunal ini dibangun di kawasan permukiman padat penduduk. Fisiknya dikelola secara mandiri oleh masyarakat sehingga tidak ada retribusi seperti untuk IPAL kawasan. Sebab, septikteng komunal ini cakupannya lebih kecil hanya menampung antara 40 hingga 80 rumah,” paparnya.
Untuk pembuatan satu septikteng komunal di setiap lokasi diperlukan anggaran sebesar Rp 300 juta.** GUS.