Tag

, ,

Oleh : H. Asep Daman
(Wartawan SK. Media Trans)

SELAKU warga negara, saya merasa salut kepada aparat keamanan dalam hal ini jajaran Kepolisian yang selalu gencar memberantas penyakit masyarakat (pekat), terutama saat menjelang tibanya bulan suci Ramadan.
Jajaran Kepolisian mulai tingkat Polsek gencar melakukan razia minuman keras, tuak, dan petasan yang mulai merebak pada saat memasuki bulan puasa.

Hasil razia itu selanjutnya dimusnahkan secara massal di Mapolres masing-masing.
Upaya itu dilakukan untuk memberikan rasa aman, tenang, dan tentram bagi seluruh masyarakat, terutama yang melaksanakan ibadah puasa. Sebab, banyak dampak yang ditimbulkan akibat pengaruh minuman keras, salah satunya memicu tingkat kriminal.

Begitupun dengan petasan. Selain membahayakan orang lain, juga sangat membahayakan diri pemakaianya. Salah satu contoh, suara ledakan petasan bisa berakibat patal bagi orang yang mengidap penyakit jantung. Contoh lain, seringkali terjadi tangan penyulut petasan cacat permanen akibat petasan yang disulutnya meledak dalam genggaman.

Akan tetapi, di tengah gencarnya Kepolisian melakuan razia terhadap miras dan petasan, suara ledakan petasan masih kerap terdengar. Bahkan, saat ini modelnya kian berkembang. Yakni, ada petasan yang meletus di udara. Gelegarnya dibarengi semburan bunga api beraneka warna.

Terlepas menggunakan miras atau bukan, kenyataan di lapangan masih banyak ditemukan orang berjalan sempoyongan akibat mabuk. Hal ini membuat warga lain menjadi resah. Sebab, orang yang mabuk itu terkadang berbuat ulah. Pantas jika agama manapun mengharamkan minuman keras.

Yang lebih memalukan lagi, di suatu tempat pada malam takbiran terjadi keributan. Dua orang yang diduga mabuk saling baku hantam. Bahkan, penulis merasa getir tatkala melihat keributan itu menggunakan senjata tajam (golok). Buntutnya, satu di antara mereka luka parah akibat tebasan golok (kayak zaman jahiliyah saja).
Ironisnya, peristiwa memalukan itu terjadi tidak jauh dari pos pengamanan polisi. Dasar orang mabuk, Polisi di depan hidungnya sendiri sama sekali tidak dihargai. Tragedi itu tak urung membuat panik warga setempat. Apalagi TKP dipadati warga yang tengah merayakan malam Lebaran. Peristiwa itupun tak urung membuat ruas jalan menjadi macet.

Mendengar ada keributan, aparat kepolisian yang sedang berjaga-jaga langsung turun tangan. Salah satu di antaranya diamankan untuk menjauhi tempat keributan. Namun, dasar orang yang lagi mabuk, lagi-lagi petugas kepolisian tidak dihargai. Orang tersebut <i>neugtreug<i> tidak mau diamankan. Merasa kesal, polisi pun terpaksa mengambil tindakan dengan cara menyetrum orang itu dengan alat kejut hingga ambruk sesaat. Merasa kapok akhirnya ybs mau meninggalkan tempat kejadian.

Menanggapi beberapa kejadian di atas, timbul pertanyaan di benak penulis. Apakah ada yang salah dengan penegakan hukum di negara kita. Kalau boleh saya usul, alangkah baiknya jika aparat kepolisian atau penegak hukum lainnya segera melakukan evaluasi agar peristiwa memalukan itu lenyap dari bumi pertiwi.**