Tag

CIMAHI,MT,-Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi telah membebaskan 2,5 hektare tanah untuk pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) kawasan di perbatasan Baros-Leuwigajah. Rencananya IPAL kawasan yang menampung limbah domestik tersebut, akan dibangun pada 2012.

Wali Kota Cimahi, H.M. Itoc Tochija menjelaskan pembangunan IPAL kawasan tersebut merupakan program bantuan dari AusAID, termasuk dalam proyek masterplan sanitasinya. “Saat ini Kota Cimahi telah memiliki masterplan sanitasi yang merupakan bantuan dari AusAID. Selanjutnya kita tinggal merencanakan pembangunan fisik serta merealisasikannya. Untuk itu, kami telah membebaskan tanah seluas 2,5 hektare di sekitar Baros-Leuwigajah,” terang Itoc di Pemkot Cimahi, Kamis (8/9).

Itoc menyebutkan, pembangunan fisik IPAL kawasan tersebut merupakan proyek dari pemerintah pusat dan AusAID. “Kita belum tahu anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut berapa. Yang pasti Pemkot Cimahi siap menerima dan menyukseskan program tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Air Bersih dan Limbah Domestik Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cimahi, Djani Achmad Nurjani menjelaskan bahwa pembangunan IPAL kawasan ini merupakan proyek jangka panjang selama 20 tahun, dan dilakukan secara bertahap dalam program Indonesia Infrastructure Initiave, Wastewater Investment Masterplan.

Untuk 5 tahun pertama, IPAL kawasan ini akan dibangun di lahan seluas 2,5 hektare di daerah penataan pembangunan baru, seperti di Baros yang kini banyak didirikan kawasan permukiman seperti Apartemen The Edge.

“IPAL kawasan ini mampu menampung limbah domestik per kawasan dengan jumlah populasi yang sangat banyak. Misalnya untuk hunian di The Edge, nantinya akan membuang limbah domestiknya ke IPAL kawasan tersebut yang dihubungkan melalui pipa. Serta kawasan permukiman modern lainnya di Baros,” jelas Djani

Djani menyampaikan, IPAL kawasan tersebut diperuntukkan bagi kawasan yang penghuninya adalah kelompok menengah ke atas. Sehingga ada anggaran pengelolaan yang rencananya ditarik melalui retribusi oleh lembaga seperti unit pelaksana teknis dinas (UPTD).

Septictank komunal

Selain IPAL kawasan yang dibangun di kawasan terpadu, Kota Cimahi juga akan membangun 4 septictank komunal pada Oktober mendatang, yaitu di Kel. Melong, Leuwigajah, Cipageran dan Kel. Utama. Sebelumnya pada 2010, Cimahi juga telah memiliki septictank komunal di 5 lokasi, yaitu di Kel. Karang Mekar, Baros, Utama, Padasuka, dan Kel. Cibeureum serta 1 tangki di Kel. Cimahi.

“Septictank komunal ini dibangun di kawasan permukiman padat penduduk, dan pengelolaan fisiknya dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Sehingga tidak ada retribusi seperti untuk IPAL kawasan, karena septictank komunal ini cakupannya lebih kecil hanya menampung antara 40 hingga 80 rumah,” paparnya.

Mengenai anggaran untuk pembuatan satu septictank komunal di setiap lokasi, Djani menjelaskan sekitar Rp 300 juta. (Agus)**