Tag

,

MT.Bandung.-PASCA-Lebaran, jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) khususnya anak jalanan (anjal) dan gelandangan pengemis (gepeng) di Kota Bandung, mulai mengalami penurunan.

Kondisi itu terjadi karena selain sebagian besar anjal dan gepeng musiman yang sudah kembali ke kampung halamannya, mereka juga terus diberi pembinaan dan diberdayakan.

Di beberapa lokasi yang selama ini biasanya dijadikan sebagai “tempat bekerja” para anjal dan gepeng, sudah mulai terlihat ada perubahan. Seperti di kawasan Pasirkoja, LeuwiPanjang, Pasteur, Ahmad Yani, dan lainnya, mulai terlihat lengang. Anjal dan gepeng yang biasanya lebih dari 10 bahkan mencapai 20 orang, saat ini tinggal beberapa orang saja.

Dari pantauan “MT” di lapangan, Jumat (9/9), kawasan pusat kota yang terdapat banyak pertokoan, juga mulai tampak sepi dari keberadaan anjal dan gepeng. Bahkan di Jln. Asia Afrika, anjal dan gepeng yang selama ini terlihat tinggal dan tidur di emperan toko serta trotoar, sudah jarang terlihat lagi.

Adanya penurunan jumlah anjal dan gepeng di Kota Bandung, dibenarkan Kepala Seksi Tuna Sosial Dinsos Kota Bandung, Tjutju Surjana. Menurut Tjutju, saat ini kondisi di Kota Bandung mulai kembali normal, setelah sebelum Lebaran diserbu oleh anjal dan gepeng musiman dari daerah lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra.

“PMKS yang ada, khususnya anjal dan gepeng saat ini sudah menurun. Kalau menjelang Lebaran, memang kami akui jumlahnya membengkak. Tapi itu hanya jelang Lebaran saja, sekarang mah sudah normal,” kata Tjutju ketika dihubungi wartawan.

Tak menjamin

Ia menjelaskan, jumlah anjal di Kota Bandung mencapai 4.821 orang dan gepeng 5.110 orang. Namun, diperkirakan jumlah anjal mengalami penurunan hingga 2.000 orang. Demikian pula dengan gepeng, Tjutju menilai, jumlahnya saat ini tinggal sekitar 2.500 orang saja. Sebagai salah satu contoh, Tjutju melihat situasi di dua kawasan paling rawan yaitu Pasirkoja dan Leuwipanjang yang mulai sepi.

“Usai Lebaran, ada penurunan tajam. Tapi fenomena ini tidak bisa kita prediksi akan berlangsung sampai kapan. Mudah-mudahan melalui program yang kita lakukan, situasinya akan berlangsung lama,” papar Tjutju.

Untuk menjaga agar situasi itu terus berlangsung lama, Tjutju menuturkan, pihaknya secara berkesinambungan akan melakukan pelatihan dan pemberdayaan. Sebelum Lebaran, hal itu pun sudah dilakukan dan banyak anjal serta gepeng, yang mulai terlatih untuk melakukan kegiatan lain.

Pelatihan dan pemberdayaan itu dilakukan, atas kerja sama antara Dinsos Kota Bandung dengan Dinsos Provinsi Jawa Barat. “Selama tahun ini pun, kita sudah beberapa kali melakukan pelatihan dan pemberdayaan terhadap ratusan anjal dan gepeng,” tuturnya.

Usai Lebaran, tambah Tjutju, pihaknya juga akan segera memberdayakan sebanyak 20 orang pemulung. Mayoritas yang diberi pelatihan adalah pemulung yang berasal dari Kota Bandung. Mereka akan diberi pelatihan selama satu minggu, serta akan diberi bantuan modal untuk mengembangkan usaha.

Dikatakan Tjutju, bantuan biaya yang diberikan sebesar Rp 40 juta untuk 20 pemulung tersebut. “Nantinya dengan modal itu, mereka bisa membuka usaha warung kecil-kecilan. Itu hal yang bagus, daripada mereka berkeliaran di jalan dan mengganggu ketertiban umum,” paparnya.

Selain melakukan pelatihan dan pemberdayaan, Dinsos secara rutin juga akan tetap melakukan penertiban. Upaya itu menjadi salah satu alternatif, dan akan dilakukan pula pemulangan anjal, gepeng dan pemulung yang berasal dari daerah lain.

Dinsos Kota Bandung, tuturnya, juga masih berharap adanya bantuan dari Pemprov Jabar untuk mengatasi PMKS tersebut. Tjutju menyatakan, Pemprov Jabar saat ini berencana memberi bantuan anggaran bagi kab./kota, termasuk salah satunya Kota Bandung.

Disinggung mengenai PMKS lainnya, yaitu pekerja seks komersial (PSK), Tjutju menyatakan, masalah tersebut tetap menjadi fokus perhatian Dinsos. Pasca lebaran, ujar Tjutju, pihaknya memperkirakan para PSK yang selama bulan Ramadan tidak “bekerja”, akan mulai kembali menjajakan diri.

“Kita akan tingkatkan razia. Dan mereka yang terjaring, akan kita kirim ke panti di Palimanan atau Cibadak,” ungkap Tjutju. (aji)

Iklan