Tag

, , ,

Ajimat Lesmana - KA Biro Bandung/Wartawan MediaTrans

SETIAP perapatan jalan di Kota Bandung, demikian pula di kota-kota dan kabupaten lainnya di Jawa Barat, selain dipadati kendaraan bermotor, juga disibukkan dengan kerumunan anak-anak usia sekolah, yang terkadang masih memakai baju seragam sekolah putih-merah.

Keberadaan mereka di setiap perempatan jalan yang ada di Kota Bandung ini, menadahkan tangan dengan berbekal bekas minuman air mineral, dan juga kain lap untuk sekedar melap kaca mobil yang sedang menunggu lampu merah berganti hijau.

Selain itu, pedagang asongan dengan peti kecilnya berisi rokok dan korek api, serta permen atau minuman air mineral, berseliweran memburu para pengemudi yang membelinya sebatang rokok. Ada juga yang apabila hujan turun, dengan bermodalkan secarik kain dan secuil sabun colek dengan nada sedikit memaksa mereka membersihkan kaca mobil, yang tengah menanti nyalanya lampu hijau. Tentu saja, dengan cara demikian mereka mengharapkan imbalan dari pengemudi.

Disisi lain, kerumunan pekerja yang terdiri dari pria dan wanita muda usia pada jam-jam tertentu memadati pintu-pintu masuk dan keluar pabrik-pabrik tekstil di daerah-daerah industri. Pabrik-pabrik tekstil, atau garmen serta perusahaan kerajinan tangan dsb, banyak mempekerjakan tenaga – tenaga muda berpendidikan rendah.

Mereka tak dituntut untuk memiliki keterampilan yang khusus, yang harus dipelajari dengan formal. Pabrik atau perusahaan tersebut hanya membutuhkan tenaga-tenaga untuk melakukan suatu hal yang tetap, teratur dan terus-menerus. Misalnya untuk menjahit kancing, dan nyetrika baju pada perusahaan garmen, dan hanya bekerja sebagai tukang ngobras. Atau merekat sol sepatu, atau sekedar menghampelas kayu untuk dijadikan mebel.

Pekerjaan itu semua, sebenarnya dapat dilakukan oleh mesin. Namun para pengusaha kita, masih menggunakan tenaga kerja manusia yang dapat diperoleh dengan bayaran yang murah. Maklumlah, kebanyakan dari mereka cukup lulusan SD saja. Dilatih sebentar, terus jalan
Kendati merupakan tamparan yang cukup menyakitkan di wajah kita, pernyataan menteri pendidikan nasional pernah menyatakan bahwa hampir separuh (48,3%) lulusan SD di Jabar tidak melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi. Artinya, mereka berhenti belajar. Dan, mereka mungkin tinggal saja di rumah. Atau membantu orangtua dengan bergelandangan dan meminta belas kasihan di setiap perapatan jalan. Kalau yang sudah sedikit dewasa, paling tidak hanya menjadi buruh di pabrik kaus kaki, rajutan yang memang tidak terlalu banyak membutuhkan keterampilan khusus. Atau bahkan, mereka ikut menjejali perapatan jalan dengan gitar seadanya, dibarengi dengan melantunkan sebuah lagu yang asal-asalan.

Mengapa hal tersebut sampai terjadi? Pertanyaan ini mungkin tidak terlalu sulit untuk dijawab! Di satu pihak, banyak lapangan pekerjaan yang membutuhkan tenaga murah. Karena itu, kualifikasinya amat rendah. Cukup lulusan SD saja. Di lain pihak tersedia tenaga berkualifikasi rendah melimpah, dan mereka hidup dalam keluarga yang serba kekurangan.

Khususnya bagi kita di Jabar, pernyataan Mendiknas ini amat serius sifatnya. Pertama harus dilakukan penelitian yang cermat dan sungguh-sungguh untuk dapat menemukan jalan keluarnya yang tepat, apabila kita tidak mau masa depan daerah dan bangsa kita, ini diletakkan di atas pundak manusia – manusia yang tak lebih dari buruh berkualifikasi kasar.
Bukankah kita sudah bertekad akan meningkatkan kualitas manusia Indonesia demi kesejahteraan mereka?